“Masih Adakah Pelangi Untukku?”

“Masih Adakah Pelangi Untukku?”

 

 

Aku hanyalah seorang wanita yang rapuh dan berusaha tegar. Tapi apa daya bagaimanapun aku hanyalah wanita yang butuh kasih sayang, dan bukan untuk disakiti. Dari awal memang aku yang salah. Aku mncintai seseorang karena rasa kasihan. Aku benar benar menyesal. Tak ada kebahagiaan yang aku dapatkan, hanya tangis dan rasa sakit.

 

“Kamu cinta sama aku gak?” tanya Joan.

 

“Gak sama sekali, aku cuma kasihan sama kamu,” seruku. Hatiku kacau, aku lelah.

 

“Kamu tahu tidak, aku tidak betah satu rumah dengan orang yang tidak punya hati seperti kamu, aku menyesal menikah sama kamu.”

 

“Aku capek, aku berusaha membuat kamu bahagia tapi apa? Kamu tidak pernah bisa mengerti aku,” tangisku meledak, aku tidak tahu lagi seberapa sering air mataku jatuh.

 

“Kalau kamu mau maksa mengajak putus pun aku tidak akan menceraikan kamu,” suara angkuh suamiku.

 

“Kamu mau lihat aku kembali seperti dulu lagi?”.

 

Dasar orang tidak pernah mau kalah. Aku pun diam, dia memang selalu mengunakan ancaman itu saat kita cekcok seperti ini. Dia selalu memanfaatkan rasa tidak tegaku.

 

Aku pun berlalu dengan hati yang remuk. Mungkin tak berbentuk lagi. Aku lelah dan aku pun terlelap dengan air mata menetes di pipiku.

 

* * * *

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

© 2009 - reko smapa blog | Design: Choen | Pagenav: Abu Farhan Top