Table 4.1 Validitas soal pada siklus I
| No Soal | rxy | rtabel | Validitas |
| 1 | 0,586961 | 0,33 | Valid |
| 2 | 0,417758 | 0,33 | Valid |
| 3 | 0,669626 | 0,33 | Valid |
| 4 | 0,757027 | 0,33 | Valid |
| 5 | 0,454507 | 0,33 | Valid |
| 6 | 0,486734 | 0,33 | Valid |
| 7 | 0,518722 | 0,33 | Valid |
| 8 | 0,537451 | 0,33 | Valid |
| 9 | 0,792185 | 0,33 | Valid |
| 10 | 0,458591 | 0,33 | Valid |
| | | | |
| Tabel 4.2 Validitas soal pada siklus II | |||
| No Soal | rxy | rtabel | Validitas |
| 1 | 0,816347 | 0,33 | Valid |
| 2 | 0,614999 | 0,33 | Valid |
| 3 | 0,729779 | 0,33 | Valid |
| 4 | 0,622150 | 0,33 | Valid |
| 5 | 0,672820 | 0,33 | Valid |
| 6 | 0,647207 | 0,33 | Valid |
| 7 | 0,692494 | 0,33 | Valid |
| 8 | 0,689802 | 0,33 | Valid |
| 9 | 0,668857 | 0,33 | Valid |
| 10 | 0,572117 | 0,33 | Valid |
b. Reliabilitas
Soal yang telah diujikan pada kelas kontrol dan telah memenuhi
validitas kemu dian diuji reliabilitasnya.dari table perhitungan diperolaeh koefisien reliabilitas dengan menggunakan rumus belah dua awal dan akhir sebesar rxy = 0,56 dan 0,77.setelah diketahui nilai rxy maka diperoleh koefisien reliabilitas tes sebesar rii = 0,65 dan 0,85 (lampiran 39) yang dirangkum dalam dibawah ini :
Table 4.3 Reliabilitas soal siklus I dan II.
| Siklus | rxy | rii | reliabilitas |
| I. | 0,47 | 0,65 | reliabel |
| II | 0,77 | 0,85 | reliabel |
2. Pelaksanaan siklus
A. Siklus I
1. Perencanaan.
Tahap perencanaan meliputi penyiapan materi pelajaran yang akan dibahas yaitu materi Teori Relativitas. Selain itu juga pembuatan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (lampiran3), silabus (lampiran 1), kisi – kisi soal (lampiran 2), lembar keterlaksanaan dan ketercapain tindakan yang meliputi lembar observasi aktifitas siswa perkelompok (lampiran 41), lembar penilaian kognitif (lampiran 43).
Sebelum kegiatan pembelajaran dimulai, guru melakukan pembentukan kelompok yang didasarkan pada banyaknya siswa dengan jumlah kelompok yang akan dibentuk, serta mengingatkan tentang peraturan yang berlaku dalam diskusi kelompok, penentuan kelompok ini didasarkan pada kemampuan awal siswa yang diketahui dari prestasi sebelumnya ( hasil dokumentasi guru) sehingga masing – masing kelompok mempunyai tingkat kemampuan yang merata.
Tahap pelaksanaan pembelajaran yang diawali dengan presensi kelas dilanjutkan dengan penjelasan tatacara pelaksanaan diskusi model Jigsaw, Pada tahab I tiap anak dalam satu kelompok bertanggung jawab atas sub. Pokok bahasan yang ditugaskan padanya, selanjutnya orang yang mempelajari materi yang sama berkumpul membentuk kelompok baru yang selanjutnya disebut kelompok ahli, setelah kelompok ahli berdiskusi kemudian kembali kekelompoknya masing-masing (kelompok asal) dan mengajarkan pada anggota tim tentang materi yang dikuasainya. Selanjutnya tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi. Setelah diskusi dan presentasi selesai, guru dan siswa menyimpulkan hasil pembelajaran.
2. Observasi.
Tahap observasi dilaksanakan sepanjang kegiatan pembelajaran. Observasi dilakukan untuk mengetahui keterlaksanaan dan ketercapaian tindakan pembelajaran melalui aktivitas siswa ( lampiran 42 ). Hasil observasi aktifitas siswa perkelompok disajikan dalam tabel dibawah.
Tabel 4.4 Hasil observasi aktifitas siswa perkelompok.
| HASIL AKHIR | Skor Kelompok | ||||||||
| I | II | III | IV | V | VI | VII | VIII | Jum | |
| SKOR | 13 | 13 | 13 | 12 | 5 | 7 | 6 | 8 | 77 |
| SKOR MAKSIMAL | 32 | 32 | 32 | 32 | 32 | 32 | 32 | 32 | 256 |
| % KEBERHASILAN | 41 | 41 | 41 | 38 | 16 | 22 | 19 | 25 | 30 |
2. Data hasil tes untuk penilaian kognitif siswa (lampiran 43) menunjukkan
a. Secara individu
Dari 40 siswa terdapat 8 siswa yang memperoleh nilai dibawah SKBM yang telah di tetapkan sebesar 6,50, sehingga untuk ke 8 siswa tersebut diwajibkan mengikuti remedial.
b. Secara Klasikal
Ketuntasan belajar secara klasikal sebesar 75%, dan dapat dikatakan tuntas. Sehingga secara klasikal tdak perlu mengulang untuk materi pembelajaran tersebut.
3. Refleksi
Pada tahap ini akan dikaji beberapa kelemahan yang terjadi selama siklus I, berdasarkan hasil tindakan yang telah dilakukan terdapat beberapa kelemahan, perhatikan table berikut :
Tabel 4.5 Keterlaksanaan siklus I
| Indikator | Target | Ketercapaian | Keterangan |
| Nilai rata-rata hasil belajar ranah kognitif | 65 | 67,25 | Tercapai |
| Nilai rata-rata aktivitas belajar | 65% | 30 % | Tidak Tercapai |
Dari table tersebut diatas nampak jelas bahwa:
- Kemampuan siswa dalam aspek kognitif masih rendah, meskipun target telah tercapai namun masih banyak tedapat siswa yang belum mencapai KKM, dari 40 siswa hanya 32 siswa yang telah tuntas sedangkan sisanya 8 orang siswa belum tuntas (Tabel 4.5, lamp 43 )
b. Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran masih kurang hal itu ditandai dengan rata – rata persentase keaktifan hanya 30 % dari target yang diharapkan sebesar 65 %. ( tabel 4.4, tabel 4.5, lamp 41 ).
Prestasi belajar yang rendah dan aktivitas belajar yang tidak tercapai tersebut disebabkan metode pembelajaran jigsaw merupakan metode pembelajaran yang baru bagi siswa sehingga metode tersebut belum dipahami benar. Kelemahan diatas digunakan sebagai acuan untuk menyusun rencana tindakan pada siklus II.
4. Rencana tindakan siklus II
Berdasarkan kelemahan–kelemahan yang terjadi pada siklus I, maka perbaikan tindakan yang harus dilakukan pada siklus II adalah sebagai berikut :
a. Memberi penjelasan yang lebih rinci tentang tatacara pembelajaran dengan metode Jigsaw, kususnya pada saat memberi saran, menerangkan pada teman, memberi tanggapan, memahami materi, berpartisipasi dalam kelompok dan dalam menarik kesimpulan.
b.Guru menyampaikan aturan aturan atau rambu rambu saat presentasi.
B. Siklus II
Tahap perencanaan meliputi pembuatan rencana pembelajaran (lampiran 4), kisi – kisi soal (lampiran 2), lembar observasi aktifitas siswa, lembar penilaian kognitif (lampiran 44), hasil refleksi siklus I , pada siklus II guru perlu mengingatkan kembali pada siswa bahwa mereka harus merencanakan dan menyiapkan presentasi yang lebih baik, agar masing masing anggota untuk dapat berperan aktif dalam berdiskusi.
Tahap pelaksanaan pembelajaran diawali dengan presentasi kelas, dilanjutkan dengan penjelasan tujuan pembelajaran yang harus dicapai, memberi penjelasan yang lebih rinci tentang tatacara pembelajaran dengan metode Jigsaw, kususnya pada saat memberi saran, menerangkan pada teman, memberi tanggapan, memahami materi, berpartisipasi dalam kelompok dan dalam menarik kesimpulan, pada siklus II kelompok kelompok mulai terjadi peningkatan, siswa mulai berani mengungkapkan pendapat temannya tanpa guru memberikan motivasi dengan pertanyaan pertanyaan, walaupun demikian masih ada juga kelompok yang harus diberi motivasi pertanyaan yang bersifat membimbing, tetapi frekuensinya sudah mulai berkurang.
Tahap observasi dilaksanakan sepanjang kegiatan pembelajaran. Observasi dilakukan untuk mengetahui keterlaksanaan rencana pembelajaran diskusi Jigsaw, hasil dari observasi ini digunakan sebagai masukan untuk pembuatan kesimpulan.
Dari hasil observasi diketahui bahwa:
1. Aktifitas siswa perkelompok disajikan table dibawah ini :
Tabel 4.6 Hasil observasi aktivitas siswa perkelompok
| HASIL AKHIR | Kelompok | ||||||||
| I | II | III | IV | V | VI | VII | VIII | Jum | |
| JUMLAH | 6 | 6 | 5 | 5 | 16 | 21 | 18 | 20 | 97 |
| SKOR MAKSIMAL | 32 | 32 | 32 | 32 | 32 | 32 | 32 | 32 | 256 |
| % KEBERHASILAN | 19 | 19 | 16 | 16 | 50 | 66 | 56 | 63 | 38 |
2. Data hasil tes untuk penilaian kognitif siswa (lampiran 4.4) menunjukkan Dari 40 siswa terdapat 4 siswa yang memperoleh nilai dibawah SKBM yang telah di tetapkan sebesar 6,50, sehingga untuk ke 4 siswa tersebut diwajibkan mengikuti remedial.
Tabel 4.7 Keterlaksanaan siklus II.
| Indikator | Target | Ketercapaian | Keterangan |
| Nilai rata-rata hasil belajar ranah kognitif | 65 | 68,8 % | Tercapai |
| Nilai rata-rata aktivitas belajar | 70% | 38 % | Tidak tercapai |
B. Analisis Data dan Pembahasan
1. Aktivitas Siswa.
Ketercapaian pelaksanaan pembelajaran dengan metode Jigsaw. Dari siklus I ke siklus II mengalami peningkatan, peningkatan itu terlihat dari keaktifan siswa dalam kelompok . Peningkatan tersebut dirangkum pada table berikut ;
Rekapitulasi Keberhasilan Metoda Jigsaw.
Tabel 4.8 Keberhasilan Aktivitas Siswa Dalam Melakukan Diskusi Jigsaw
| Siklus ke | Skor klasikal yang diperoleh | Skor klasikal maksimum | Prosentase keberhasilan | |
| 1 | 77 | 256 | 30 % |
|
| 2 | 97 | 256 | 38 % |
|
Berdasarkan tabel di atas, keberhasilan siswa dalam melakukan diskusi Jigsaw pada pelajaran Fisika terdapat peningkatan sebesar 8 %, peningkatan ini disebabkan siswa lebih memahami metode pembelajaran Jigsaw. Peningkatan ini tidak dapat dijadikan acuan sebagai keberhasilan peningkatan aktifitas siswa dalam metode pembelajaran jigsaw, karena peneliti menggunakan kelompok yang berbeda saat pengambilan data. ( lampiran 41 dan lampiran 42 ). Hal tersebut dikarenakan keterbatasan waktu dan kurangnya tenaga dalam pengambilan data observasi.
2. Kemampuan kognitif siswa.
a. Secara Individu.
Sebelum penelitian nilai rata rata siswa hanya 62 masih dibawah nilai SKBM, setelah dilakukan penelitian ternyata nilai siswa meningkat sebesar 5,25 pada siklus I dan meningkat sebesar 6,80 pada siklus II. Hal ini dikarenakan pada saat sebelum penelitian siswa hanya mendengarkan penjelasan dari guru saja atau belajar sekedarnya tanpa ada target yang harus mereka capai, dengan pembelajaran jigsaw siswa dituntut untuk lebih aktif serta memiliki target, yakni harus menguasai materi dengan baik dan benar. Mereka dituntut untuk dapat menerangkan hasil belajarnya dalam kelompok dan dituntut mempresentasikan hasil belajarnya di depan kelompok lain dalam satu kelas oleh karena itu mereka harus menguasai materi dengan baik dan benar.
Dari hasil nilai postest diketahui bahwa siklus II mengalami peningkatan dibandingkan dengan siklus I. Peningkatan tersebut terlihat dari peningkatan nilai rata –rata kelas sebesar 1,55 dari sebelumnya 67,25 pada siklus I menjadi 68,80 pada siklus II, hal itu karena siswa sudah menguasai materi dengan baik.
b. Secara Klasikal
Ketuntasan belajar secara klasikal pada siklus II juga meningkat bila dibandingkan dengan siklus I, peningkatan ini karena kemampuan masing-masing siswa sudah mulai merata. Peningkatan tersebut seperti yang terangkum pada tabel 4.9 berikut :
Tabel 4.9 Perbandingan niali rata – rata kelas.
| Indikator | Sebelum Penelitian | Siklus I | Siklus II |
| Rata -rata kelas | 62 | 67,25 | 68,80 |
| Ketuntasan | 68 % | 75% | 90% |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar